Aceh Tamiang Buser Siaga.  –  Banjir bandang telah mengubah Aceh Tamiang menjadi lautan air, memaksa lebih dari 206 ribu jiwa meninggalkan rumah mereka. Keadaan darurat ini diperparah dengan laporan 18 korban jiwa dan infrastruktur yang hancur.

Data terbaru mengungkap bahwa 51.726 keluarga (KK) terdampak langsung oleh bencana ini sejak 26 November 2025. Kecamatan Rantau menjadi episentrum pengungsian dengan 38.227 jiwa, sementara Karang Baru mencatat duka mendalam dengan 10 korban meninggal dunia.18 nyawa telah melayang, 3 lainnya terluka, dan bantuan kemanusiaan masih terhambat mencapai titik-titik pengungsian yang paling terpencil. Kabupaten Aceh Tamiang kini lumpuh total tanpa listrik dan jaringan komunikasi.

Lumpuhnya Segala Aktivitas: Gedung-gedung di pusat ibu kota rata dengan tanah, melumpuhkan seluruh aktivitas kabupaten. Wartawan lokal bahkan kesulitan mengonfirmasi kondisi terkini akibat putusnya komunikasi.

Sangat diharapkan Pemerintah Pusat Harus Bertindak Cepat! Situasi ini adalah tragedi kemanusiaan yang mendesak. Pemerintah pusat harus segera mengerahkan segala sumber daya untuk menembus blokade medan dan memastikan bantuan vital menjangkau setiap pengungsi yang membutuhkan.

Hilangnya listrik dan komunikasi bukan hanya menghambat koordinasi bantuan, tetapi juga mengancam nyawa. Pemulihan infrastruktur harus menjadi prioritas nomor satu!

Tragedi ini membuka pertanyaan besar tentang kesiapan mitigasi bencana di Aceh Tamiang. Evaluasi menyeluruh diperlukan untuk mencegah bencana serupa di masa depan dan melindungi masyarakat dari ancaman yang sama.

Jangan biarkan Aceh Tamiang tenggelam dalam duka! Ulurkan tangan Anda, dan sebarkan informasi ini, dan desak pemerintah untuk bertindak sekarang! ( Zulherman/ Yongcik )

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *