
BUSERSIAGA , COM| KABUPATEN TANGERANG — Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, kejujuran menjadi salah satu nilai kehidupan yang menghadapi tantangan serius. Tidak sedikit orang yang memilih menyembunyikan kebenaran demi mendapatkan keuntungan, mempertahankan kedudukan, memperoleh pujian, bahkan demi kepentingan materi.
Ungkapan “Pilih Dibenci Karena Jujur, atau Disukai Karena Kepalsuan?” menjadi refleksi penting bagi masyarakat Indonesia untuk kembali mempertanyakan arah kehidupan, karakter, serta nilai-nilai moral yang diwariskan oleh para pendahulu bangsa.
Pesan tersebut disampaikan oleh Donny Putra T., S.H., Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Ikatan Keluarga Minang (IKM) Kabupaten Tangerang. Ia menyoroti semakin pentingnya membangun karakter kejujuran di tengah kehidupan sosial yang menurut pandangannya mulai mengalami kemunduran dalam menjaga nilai-nilai moral dan budaya.
Menurut Donny, kejujuran memang tidak selalu membuat seseorang disukai. Bahkan, orang yang berani menyampaikan kebenaran terkadang justru mendapatkan penolakan, kritik, permusuhan, atau dijauhi oleh lingkungan yang tidak nyaman mendengar kenyataan.
Namun, baginya, lebih baik berdiri dengan sedikit orang yang tulus daripada dikelilingi banyak orang yang hanya hadir karena kepentingan.
“Kejujuran memang memiliki harga yang mahal, dan tidak semua orang sanggup membayarnya. Ketika seseorang memilih berkata apa adanya, ia harus siap menghadapi kenyataan bahwa tidak semua orang akan menerima kebenaran tersebut. Tetapi jangan pernah menukar prinsip hidup hanya demi mendapatkan pengakuan manusia,” menjadi pesan reflektif yang disampaikan dalam pandangannya.
BUDAYA BANGSA JANGAN SAMPAI TERGERUS PERUBAHAN ZAMAN
Donny menilai perubahan zaman dan derasnya arus globalisasi membawa tantangan tersendiri bagi identitas budaya bangsa Indonesia.
Menurutnya, keterbukaan terhadap budaya luar bukan sesuatu yang harus ditolak sepenuhnya. Kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, kedisiplinan, kreativitas, dan etos kerja dari berbagai negara justru dapat menjadi bahan pembelajaran.
Akan tetapi, masyarakat harus memiliki kemampuan memilah dan memilih pengaruh yang masuk.
Jangan sampai keterbukaan terhadap budaya asing membuat bangsa Indonesia kehilangan jati diri, sopan santun, rasa hormat kepada orang tua, kepedulian sosial, gotong royong, serta budaya malu ketika melakukan perbuatan tidak jujur.
“Budaya bangsa kita jangan sampai perlahan-lahan terkikis. Kita boleh mengikuti perkembangan dunia, tetapi jangan sampai kehilangan karakter sebagai bangsa Indonesia. Kemajuan tidak boleh dibayar dengan hilangnya moralitas,” demikian pesan yang menjadi perhatian dalam refleksi tersebut.
Ia juga mengingatkan bahwa identitas bangsa tidak hanya terlihat dari pakaian adat, bahasa daerah, kesenian, atau tradisi seremonial. Identitas bangsa juga tercermin dari perilaku sehari-hari, terutama kejujuran, tanggung jawab, kesantunan, dan kepedulian terhadap sesama.
DUNIA PENDIDIKAN HARUS MENJADI BENTENG KEJUJURAN
Salah satu hal yang menjadi perhatian Donny adalah dunia pendidikan.
Menurutnya, pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada nilai akademik, gelar, ijazah, dan keberhasilan memperoleh pekerjaan. Pendidikan harus menjadi tempat pembentukan karakter, integritas, serta tanggung jawab moral generasi penerus bangsa.
Ia mengingatkan adanya kekhawatiran terhadap perilaku sebagian generasi muda yang mudah tergoda keuntungan materi sehingga berpotensi mengorbankan prinsip kejujuran.
Fenomena menyontek, plagiarisme, manipulasi data, praktik jual beli jawaban, hingga penyalahgunaan teknologi untuk memperoleh hasil secara tidak jujur merupakan contoh perilaku yang perlu dicegah melalui pendidikan karakter.
Persoalan tersebut tidak boleh digeneralisasi kepada seluruh generasi muda. Sebab, masih banyak anak muda Indonesia yang memiliki integritas, prestasi, semangat belajar, dan kepedulian terhadap masa depan bangsa.
Namun, setiap indikasi kemerosotan moral harus menjadi peringatan bagi keluarga, sekolah, perguruan tinggi, dan pemerintah.
“Jangan sampai anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang hanya mengejar uang dan pengakuan, tetapi kehilangan rasa malu ketika berbuat curang. Kepintaran tanpa kejujuran bisa menjadi ancaman bagi masyarakat. Kita membutuhkan generasi yang cerdas sekaligus memiliki hati nurani,” menjadi pesan penting dalam membangun pendidikan berkarakter.
Menurutnya, guru harus menjadi teladan, orang tua harus memberikan contoh, dan lembaga pendidikan harus menerapkan aturan secara adil. Sebab, anak-anak lebih mudah belajar dari apa yang mereka lihat daripada sekadar apa yang mereka dengar.
AL-QUR’AN MENEGASKAN PENTINGNYA KEJUJURAN
Dalam ajaran Islam, kejujuran bukan sekadar etika sosial, melainkan bagian dari perintah Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
1. QS. At-Taubah ayat 119
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.”
Ayat ini mengajarkan bahwa seorang muslim harus senantiasa menjaga ketakwaan dan berada di lingkungan orang-orang yang jujur.
Kejujuran bukan hanya diucapkan melalui lisan, melainkan harus diwujudkan melalui tindakan, keputusan, pekerjaan, serta hubungan antarmanusia.
2. QS. Al-Ahzab ayat 70–71
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
Ayat ini mengingatkan bahwa setiap perkataan harus mengandung kebenaran, tidak memfitnah, tidak memanipulasi, dan tidak digunakan untuk merugikan orang lain.
3. QS. Al-Mutaffifin ayat 1–3
وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ
Artinya:
“Celakalah orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!”
Ayat selanjutnya menjelaskan tentang orang-orang yang meminta takaran penuh untuk dirinya, tetapi mengurangi takaran ketika memberikan kepada orang lain.
Pesan moralnya sangat relevan dengan kehidupan saat ini: jangan mengharapkan hak secara penuh apabila kita sendiri tidak mau memberikan hak orang lain secara jujur.
4. QS. An-Nisa ayat 58
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا
Artinya:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.”
Ayat ini menegaskan bahwa amanah dan kejujuran harus menjadi dasar dalam menjalankan tanggung jawab, termasuk dalam kepemimpinan, pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan bermasyarakat.
RASULULLAH SAW MENGAJARKAN KEJUJURAN SEBAGAI JALAN KESELAMATAN
Rasulullah Muhammad SAW juga memberikan perhatian besar terhadap kejujuran.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
Artinya:
“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut menjelaskan bahwa kejujuran merupakan jalan menuju kebaikan. Sebaliknya, kebohongan yang terus dilakukan dapat membawa seseorang kepada perilaku buruk.
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
Artinya:
“Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara, ia berdusta; apabila berjanji, ia mengingkari; dan apabila diberi amanah, ia berkhianat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi pengingat agar setiap orang menjaga perkataan, menepati janji, dan memelihara amanah.
KEJUJURAN HARUS DIMULAI DARI DIRI SENDIRI
Persoalan moral bangsa tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah, sekolah, ataupun generasi muda.
Keluarga, tokoh masyarakat, pemimpin organisasi, pejabat publik, pendidik, dan seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama.
Jangan sampai masyarakat menuntut anak-anak muda untuk jujur, sementara orang dewasa justru memberikan contoh manipulasi dan ketidakjujuran.
Jangan mengajarkan kesederhanaan apabila perilaku sehari-hari justru mempertontonkan keserakahan. Jangan mengajarkan amanah apabila tanggung jawab sendiri diabaikan.
Kejujuran harus menjadi budaya, bukan hanya slogan yang disampaikan ketika peringatan hari besar atau kegiatan seremonial.
SEDIKIT TEMAN TETAPI TULUS, LEBIH BAIK DARIPADA BANYAK TETAPI PALSU
Dalam kehidupan sosial, tidak semua orang yang tersenyum benar-benar tulus. Tidak semua orang yang memberikan pujian memiliki niat baik. Begitu pula, tidak semua orang yang menyampaikan kritik berarti membenci.
Karena itu, masyarakat perlu belajar membedakan kritik yang membangun dengan kebencian, serta membedakan persahabatan yang tulus dengan hubungan yang hanya didasarkan pada kepentingan.
Kejujuran juga harus disampaikan dengan adab. Berkata benar bukan berarti bebas menghina, merendahkan, atau menyakiti orang lain. Kebenaran harus disertai kebijaksanaan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap sesama.
Pada akhirnya, kehormatan seseorang tidak ditentukan oleh berapa banyak orang yang menyukainya, tetapi oleh seberapa kuat ia mempertahankan prinsip kebenaran ketika menghadapi godaan.
PESAN MORAL UNTUK GENERASI PENERUS BANGSA
Donny Putra T., S.H. mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya keluarga dan dunia pendidikan, untuk kembali menanamkan nilai kejujuran sejak usia dini.
Generasi muda harus diberikan pemahaman bahwa keberhasilan sejati bukan semata-mata tentang banyaknya uang, tingginya jabatan, atau popularitas di media sosial.
Keberhasilan juga diukur dari integritas, tanggung jawab, kemampuan menghargai orang lain, dan keberanian mempertahankan kebenaran.
Jangan sampai generasi penerus bangsa tumbuh menjadi pribadi yang pandai berbicara, tetapi tidak mampu mempertanggungjawabkan perkataannya. Jangan sampai mereka memiliki kecerdasan tinggi, tetapi kehilangan kejujuran dalam menggunakan ilmunya.
Karena bangsa yang besar bukan hanya membutuhkan generasi yang pintar, tetapi juga generasi yang berakhlak, amanah, dan berintegritas.
PENUTUP: LEBIH BAIK JUJUR MESKIPUN TIDAK DISUKAI
Pada akhirnya, pilihan hidup kembali kepada masing-masing individu.
Apakah kita ingin disukai karena selalu mengikuti keinginan orang lain, meskipun harus mengorbankan kebenaran? Ataukah kita memilih tetap jujur, meskipun terkadang harus menghadapi penolakan?
Kejujuran memang tidak selalu memberikan keuntungan secara langsung. Namun, kejujuran menjaga kehormatan, membangun kepercayaan, dan memberikan ketenangan hati.
Sebagaimana pesan Al-Qur’an dalam QS. At-Taubah ayat 119, hendaknya kita senantiasa bertakwa dan bersama orang-orang yang benar.
“Jangan takut kehilangan teman karena kejujuran. Takutlah kehilangan harga diri karena kepalsuan. Sebab, manusia mungkin bisa menipu manusia lainnya, tetapi tidak ada satu pun perbuatan yang tersembunyi dari pengawasan Allah SWT.”
( Red )

