KETUA DPC YLPK PERARI PRIHATIN: NILAI KEJUJURAN, ADAB, DAN TOLERANSI DINILAI SEMAKIN TERGERUS

Blog20 Dilihat

BUSERSIAGA, COM TANGERANG — Fenomena sosial di tengah masyarakat yang semakin kompleks menjadi perhatian Ketua DPC Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen Perjuangan Anak Negeri (YLPK PERARI). Ia menyampaikan keprihatinan terhadap kondisi kehidupan bermasyarakat yang dinilai semakin jauh dari nilai-nilai kejujuran, adab, toleransi, serta norma agama dan budaya.

Menurutnya, kejujuran seharusnya menjadi fondasi utama dalam membangun hubungan antarmanusia. Namun, dalam realitas kehidupan sehari-hari, orang yang berani menyampaikan kebenaran terkadang justru menghadapi penolakan, sementara sikap yang hanya bertujuan menyenangkan orang lain kerap lebih mudah diterima.

“Jujur itu mahal, karena tidak semua orang sanggup membayarnya. Di tengah lingkungan yang terbiasa dengan kepalsuan, menjadi diri sendiri dan berpegang teguh pada kebenaran merupakan bentuk keberanian yang tidak selalu mendapatkan apresiasi,” demikian pesan yang menjadi refleksi atas kondisi sosial saat ini.

Norma Agama dan Budaya Perlu Kembali Diperkuat

Ketua DPC YLPK PERARI mengungkapkan keprihatinannya terhadap nilai-nilai agama dan budaya yang dinilainya perlu terus diperkuat dalam kehidupan bermasyarakat. Adab dalam berkomunikasi, sikap saling menghormati, toleransi terhadap perbedaan, serta semangat persaudaraan merupakan bagian penting yang tidak boleh ditinggalkan.

Ia menilai bahwa fitnah, prasangka buruk, dan kebiasaan menjatuhkan orang lain dapat merusak kepercayaan serta memicu perpecahan apabila tidak disikapi dengan bijaksana.

Dalam kehidupan sosial, perbedaan pendapat seharusnya menjadi ruang untuk berdialog, bukan alasan untuk bermusuhan. Kritik semestinya disampaikan dengan dasar yang jelas, sedangkan tuduhan harus didukung fakta dan tidak boleh digunakan untuk merugikan pihak lain.

Jangan Menghalalkan Segala Cara demi Kepentingan Pribadi

Persoalan lain yang menjadi sorotan adalah perilaku sebagian orang yang dinilai mengutamakan kepentingan pribadi maupun kelompok tanpa mempertimbangkan etika dan dampaknya terhadap masyarakat.

Menurut pandangannya, mencari nafkah dan membangun kesejahteraan merupakan hal yang wajar. Namun, usaha mencapai tujuan tersebut harus tetap berlandaskan kejujuran, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap hak orang lain.

“Jangan sampai demi uang, jabatan, atau kepentingan kelompok, seseorang mengorbankan harga diri, persaudaraan, bahkan kebenaran. Keuntungan yang diperoleh dengan menghalalkan segala cara dapat meninggalkan kerugian moral dan sosial yang jauh lebih besar,” menjadi pesan yang relevan untuk direnungkan bersama.

Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan seseorang tidak semestinya diukur hanya dari kekayaan, jabatan, atau banyaknya orang yang berada di sekelilingnya. Integritas, kepedulian, dan konsistensi dalam memegang prinsip justru menjadi ukuran penting dari karakter seseorang.

Mengembalikan Kejujuran sebagai Fondasi Kehidupan

YLPK PERARI berharap masyarakat dapat kembali memperkuat pendidikan karakter, menanamkan nilai-nilai moral sejak dini, serta membangun budaya saling menghormati dan berani menyampaikan kebenaran secara bertanggung jawab.

Keluarga, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, dan para pemimpin memiliki peran penting dalam memberikan teladan. Perubahan tidak cukup hanya melalui nasihat, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Di tengah kehidupan yang penuh tantangan, masyarakat perlu membedakan kritik dengan kebencian, keberanian dengan kesombongan, serta sikap tegas dengan tindakan yang merendahkan orang lain.

Pesan penutup: Kejujuran mungkin tidak selalu membuat seseorang disukai semua orang. Namun, integritas akan menjaga seseorang tetap berdiri di atas prinsip yang benar. Jangan biarkan fitnah mengalahkan fakta, kepentingan mengalahkan nurani, dan kebencian mengalahkan rasa kemanusiaan.

YLPK PERARI — Berpegang pada kebenaran, menjunjung keadilan, dan menjaga martabat kemanusiaan.

Catatan redaksi: Pernyataan mengenai kemerosotan nilai sosial merupakan pandangan dan keprihatinan narasumber, bukan kesimpulan bahwa seluruh masyarakat berperilaku demikian. ( Tim )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *