BANDA ACEH/ Buser Siaga – Kepemimpinan Irjen Pol. Drs. Marzuki Ali Basyah, M.M. menoreh transformasi nyata di Kepolisian Daerah Aceh. Putra kelahiran Tangsedalam, 18 Juni 1968—lulusan Akpol 1991—membawa pendekatan humanis, visioner, dan berakar kearifan lokal yang perlahan meruntuhkan sekat lama antara polisi dan masyarakat.
Selama menakhodai Polda Aceh, ia mengubah citra kantor polisi yang dulu kerap dianggap menakutkan, kini beralih menjadi tempat terbuka, ramah, dan “rumah aman” bagi warga yang ingin mengadu maupun mencari keadilan. Dinding pembatas psikologis perlahan runtuh; polisi tak lagi berjarak, melainkan berposisi sejajar sebagai mitra masyarakat.
Perubahan ini diperkuat lewat pendekatan budaya dan sosial. Personil didorong aktif hadir di masjid, pesantren, serta kegiatan keagamaan—urat nadi kehidupan sosial Aceh—sekaligus merangkul ulama dan tokoh adat sebagai garda depan menjaga keamanan dan ketertiban. Tak hanya itu, jajaran Polres hingga Polsek juga digerakkan mendampingi dan mengangkat UMKM lokal, membantu menggerakkan ekonomi akar rumput.
Selain hubungan sosial, Kapolda juga melahirkan inovasi Green Policing: kepolisian ikut turun tangan menanggulangi kerusakan hutan dan pembalakan liar. Strategi kolaborasi pentahelix—melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas, pelaku usaha, dan media—diterapkan menjaga kelestarian alam sekaligus mengedukasi generasi muda.
Di sisi lain, Polda Aceh juga bergerak nyata mendukung ketahanan pangan nasional. Personil diterjunkan langsung bersinergi dengan dinas terkait dan kelompok tani, mengolah lahan produktif sebagai basis ketahanan pangan daerah.
Gabungan ketegasan kepemimpinan dan kepekaan sebagai anak daerah membuat perubahan ini terasa merata. Stigma negatif perlahan pudar; kantor polisi kini bukan sekadar tempat layanan formal, melainkan aset negara yang inklusif—tempat warga ikut menjaga, melindungi, dan tumbuh bersama dalam damai dan sejahtera.( Zulherman )






