ACEH TAMIANG / BUSER SIAGA – Nasib pendidikan di Aceh Tamiang kembali menjadi tanda tanya besar Proyek strategis nasional berupa revitalisasi atau perbaikan sekolah tingkat SD dan SMP yang terdampak bencana banjir besar November 2025 lalu, hingga saat ini BELUM ADA TANDA-TANDA KEMAJUAN.

 

Ironisnya, proyek bernilai besar dengan sumber anggaran APBN ini sudah resmi dilaunching dan dicanangkan oleh Bupati Aceh Tamiang, Armia Fahmi, dengan target mulia yakni mempercepat pemulihan proses belajar mengajar serta mempersiapkan fasilitas yang layak untuk tahun ajaran baru.

 

Namun kenyataan di lapangan berbanding terbalik dengan harapan. Hingga berita ini diturunkan, belum terlihat satu pun gerakan fisik atau tanda kehidupan pengerjaan di sekolah-sekolah yang menjadi target bantuan tersebut.

 

Kabid Pendidikan Akui Belum Ada Sekolah yang Bergerak!

 

Menanggapi keprihatinan ini, Kepala Bidang (Kabid) Sekolah Dasar dan Menengah, Khairul, ketika dikonfirmasi awak media mengakui adanya kemacetan yang terjadi.

 

Dengan jujur ia menyatakan, hingga saat ini belum ada satu pun sekolah baik jenjang SD maupun SMP yang melaporkan telah memulai kegiatan pengerjaan.

 

“Sebenarnya pihak kami sudah menyurati seluruh kepala sekolah tingkat dasar dan menengah terkait teknis pelaksanaannya. Namun yang menjadi pertanyaan besar, sampai saat ini belum ada satupun yang melaporkan bahwa kegiatan sudah berjalan atau bahkan baru dimulai,” ungkap Khairul.

 

Target Tuntas Tahun Ajaran Baru, Realita Nol Besar!

 

Padahal, target utama dari pencairan anggaran revitalisasi ini sangat jelas, yaitu agar fasilitas sekolah dapat segera diperbaiki, layak huni, dan siap digunakan maksimal saat tahun ajaran baru tiba.

 

“Padahal kita berharap ini harus sudah selesai agar bisa dipergunakan untuk tahun ajaran baru. Tapi entah apa kendala yang sebenarnya terjadi, fakta di lapangan menunjukkan nol besar. Belum ada tanda-tanda satu sekolah pun memulai pekerjaan,” tegas Khairul dengan nada kecewa.

 

Kondisi ini tentu memunculkan banyak pertanyaan di tengah masyarakat. Di satu sisi pemerintah pusat telah menyalurkan dana besar demi kemanusiaan dan pendidikan, namun di sisi lain implementasinya di daerah terkesan jalan di tempat.

 

Masyarakat berharap tidak ada permainan lambat yang justru merugikan masa depan anak-anak Aceh Tamiang yang sudah sangat menderita akibat bencana banjir sebelumnya. ( Zulherman )

 

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *