Homepage/A BARAT/Aceh BaratKepsek SMA Alwasliyah Kualasimpang Dituding Manipulasi Data , Siswa: Datang Sesuka Hati, Dana MBG Disalurkan ke Guru & Pesantren
Kepsek SMA Alwasliyah Kualasimpang Dituding Manipulasi Data , Siswa: Datang Sesuka Hati, Dana MBG Disalurkan ke Guru & Pesantren
Aceh Tamiang / Buser Siaga – Dugaan praktik manipulasi data siswa demi meraup dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMA Swasta Alwasliyah (AW) Kota Kualasimpang semakin menguat. Ketika dikonfirmasi awak media, Kepala Sekolah Suprianto justru beralasan dan meminta pertanggungjawaban dialihkan ke pihak yayasan, sementara operator sekolah secara aneh menolak mengaku bekerja di sana.
Kasus ini mencuat setelah temuan di lapangan menunjukkan ketidaksesuaian data: sekolah tercatat menerima 67 paket MBG setiap harinya, namun pantauan awak media tidak menjumpai jumlah siswa yang setara hadir di kelas.
Menanggapi hal itu, Suprianto mengakui adanya masalah kehadiran siswa. “Memang ada persoalan dengan siswa yang enggan hadir secara rutin. Sebagian besar adalah murid pindahan yang memiliki catatan masalah di sekolah sebelumnya namun tetap ingin melanjutkan pendidikan di sini,” ungkapnya saat dikonfirmasi, Senin (3/8/2026).
Lebih jauh, ia mengaku tak berdaya mengatur kedisiplinan siswa. “Mereka datang sesuka hati, kami tak bisa berbuat banyak. Jangan hanya saya yang dimintai keterangan, saya pun pusing mengurus sekolah ini. Lebih baik tanyakan langsung kepada pihak yayasan,” ujar Suprianto dengan nada menghindar.
Penjelasan Kepsek terkait penyaluran bantuan MBG pun terdengar tak masuk akal dan melenceng dari aturan. “Dari 67 paket yang kami terima, 10 bagian diserahkan ke pesantren, sisanya kami berikan kepada guru agar tidak mubazir,” kilahnya enteng.
Keganjalan tak berhenti di situ. Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Aceh Tamiang Bachtiar membenarkan bahwa Eva tercatat sebagai operator sekolah yang bertanggung jawab memasukkan data ke dalam sistem Dapodik. Namun ketika dihubungi, Eva justru menolak mengaku dan meminta awak media tidak mengganggunya. “Saya tidak bekerja di sana, jangan ganggu saya,” ucapnya singkat lalu mematikan sambungan telepon.
Fenomena ini dinilai sangat ironis: data negara dikelola oleh orang yang tak mau mengakui tanggung jawabnya, sementara dana bantuan yang seharusnya diperuntukkan siswa terancam disalahgunakan. Hingga berita ini diturunkan, pihak Yayasan Alwasliyah belum dapat dimintai keterangan.
Berbagai kalangan mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) dan Dinas Pendidikan terkait segera turun tangan melakukan penyelidikan mendalam. Pasalnya, dugaan manipulasi ini berpotensi merugikan keuangan negara hingga ratusan juta rupiah per tahun, sekaligus mencederai semangat pendidikan yang jujur dan transparan di Aceh Tamiang.( Zulherman )