Muzakarah Internasional Hari Kedua Soroti Peran Tasawuf dalam Membangun Persatuan dan Perdamaian Dunia

Banda Aceh6 Dilihat

 

 

BANDA ACEH, 11 Oktober 2026 — Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II memasuki hari kedua dengan membahas peran tasawuf dalam memperkuat persatuan umat, kerukunan antaragama, dan perdamaian dunia. Forum yang mempertemukan ulama, akademisi, dan cendekiawan Muslim lintas negara ini menyoroti pentingnya nilai ihsan, penyucian jiwa, pengendalian diri, dan pembinaan akhlak dalam menghadapi tantangan masyarakat modern.

 

Diskusi menegaskan bahwa tasawuf tidak hanya berkaitan dengan spiritualitas individu, tetapi juga menjadi landasan pembentukan karakter, penguatan persaudaraan, penghormatan terhadap perbedaan, dan penyelesaian konflik melalui dialog serta kasih sayang.

 

Muzakarah hari kedua menghadirkan narasumber dari Maroko, Kamboja, dan Malaysia yang membagikan perspektif mengenai spiritualitas Islam, kerukunan sosial, serta pendidikan tasawuf dalam membangun peradaban yang damai.

 

Sheikh Dr. Aziz El Kobaiti Idrissi Al-Hassani: Tasawuf sebagai Jembatan Antarperadaban

 

Dari Maroko, Sheikh Dr. Aziz El Kobaiti Idrissi Al-Hassani hadir sebagai Presiden International Academic Center for Sufi and Aesthetic Studies (IACSAS) di Fez dan Direktur Jenderal Fez International Sufi Conference.

 

Ia memiliki latar belakang akademik dalam bidang pemikiran Islam dan tasawuf, dengan pendidikan doktoral yang berkaitan dengan Sidi Mohamed Ben Abdellah University di Fez dan Loyola University di Chicago, Amerika Serikat. Kiprahnya mencakup penelitian, pengembangan kajian spiritualitas Islam, serta penyelenggaraan forum akademik internasional, termasuk kegiatan yang berkaitan dengan tradisi Sufi di Afrika Selatan.

 

Dalam perspektif tasawuf, penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan cinta (mahabbah) menjadi prinsip penting dalam membentuk manusia yang berakhlak, mampu mengendalikan diri, serta menghormati sesama. Perubahan kehidupan tidak cukup dilakukan melalui pembenahan lahiriah, tetapi perlu disertai pemurnian niat, pembinaan batin, dan perbaikan perilaku.

 

Nilai kasih sayang, kerendahan hati, dan penghormatan terhadap martabat manusia dinilai dapat mempererat hubungan sosial serta mengurangi permusuhan. Karena itu, tasawuf memiliki relevansi dalam menjembatani perbedaan budaya dan pandangan serta memperkuat dialog antarperadaban.

 

Pembahasan tersebut juga menyoroti kontribusi tradisi tasawuf Maroko dan Afrika Utara terhadap perkembangan keilmuan serta pendidikan spiritual Islam. Fez dikenal sebagai salah satu pusat keilmuan Islam, sementara pengalaman masyarakat Afrika yang beragam dapat memperkaya pertukaran pemikiran mengenai spiritualitas dan perdamaian.

 

Meski demikian, Afrika memiliki sejarah, budaya, dan tradisi keagamaan yang beragam sehingga tidak dapat dipandang sebagai satu tradisi yang seragam. Pengalaman Maroko menjadi salah satu perspektif yang dapat memperkuat dialog antara Afrika dan Asia Tenggara dalam mengembangkan pendidikan akhlak, penghormatan terhadap sesama, dan penyelesaian perbedaan secara damai.

 

H.E. Dr. Yob Ahskary: Memperkuat Kerukunan Antarumat Beragama

 

Narasumber dari Kamboja, H.E. Dr. Yob Ahskary, yang juga dikenal sebagai Asyary bin Aiyob, memberikan perspektif mengenai pentingnya nilai keagamaan dalam menjaga kerukunan dan keharmonisan masyarakat.

 

Ia dikenal pernah menjabat sebagai State Secretary dan kemudian disebut menjabat sebagai Wakil Menteri Kementerian Kultus dan Agama Kamboja (Deputy Minister of Cults and Religions). Penyebutan jabatan tersebut merujuk pada riwayat jabatan dalam periode berbeda.

 

Pengalaman Kamboja memberikan gambaran mengenai kehidupan komunitas Muslim Cham di tengah masyarakat yang mayoritas beragama Buddha. Keberagaman tersebut menunjukkan pentingnya komunikasi terbuka, penghormatan terhadap perbedaan, dan dialog dalam menjaga hubungan sosial.

 

Dalam konteks ini, nilai-nilai tasawuf seperti kasih sayang, kebijaksanaan, pengendalian diri, dan akhlak mulia dapat membantu memperkuat kepercayaan antarkelompok serta mencegah berkembangnya prasangka dan permusuhan.

 

Pengalaman Kamboja turut memperkaya diskusi mengenai peran pendidikan agama dan pembinaan spiritual dalam menumbuhkan tanggung jawab sosial, memperluas kerja sama, serta membangun perdamaian yang berkelanjutan.

 

Dato’ Haji Shushilil Azam bin Shuib: Pendidikan Tasawuf dalam Dunia Modern

 

Dari Malaysia, Dato’ Haji Shushilil Azam bin Shuib membahas relevansi pendidikan tasawuf dalam pengembangan pendidikan Islam kontemporer.

 

Ia pernah menjabat sebagai Direktur Divisi Internasionalisasi Pendidikan Tinggi pada Jabatan Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia. Ia juga pernah diperkenalkan sebagai Visiting Professor di Universitas Ubudiyah Indonesia. Kedua keterangan tersebut merupakan bagian dari rekam jejak profesional dan akademiknya, bukan konfirmasi jabatan aktif pada 2026.

 

Pembahasan menekankan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan intelektual, tetapi juga membentuk karakter, integritas, kematangan spiritual, dan kepedulian sosial. Dalam hal ini, tasawuf dapat menjadi salah satu landasan untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan pembinaan akhlak.

 

Nilai wasathiyah atau moderasi, zuhud atau sikap tidak berlebihan terhadap kehidupan dunia tanpa meninggalkan tanggung jawab dan produktivitas, serta ukhuwah atau persaudaraan dipandang penting dalam membangun keseimbangan antara ilmu, spiritualitas, dan kehidupan sosial.

 

Pendidikan tasawuf juga dinilai relevan untuk menghadapi tantangan krisis identitas dan moral di kalangan generasi muda. Penguatan spiritual diharapkan melahirkan pribadi yang teguh memegang nilai, mampu mengendalikan diri, serta bertanggung jawab terhadap masyarakat.

 

Integrasi ilmu dan akhlak menjadi bagian penting dalam membangun pendidikan Islam modern agar kemajuan intelektual berjalan seiring dengan pembentukan karakter. Kerja sama pendidikan dan pertukaran gagasan lintas negara juga dinilai dapat memperkuat upaya tersebut.

 

Rekomendasi Bersama untuk Persatuan dan Perdamaian

 

Diskusi hari kedua melibatkan ulama, akademisi, mahasiswa, dan perwakilan organisasi Islam dari berbagai negara. Pertukaran pandangan tersebut memperkaya pembahasan mengenai peran tasawuf dalam menjawab tantangan kehidupan individu, masyarakat, hingga hubungan antarbangsa.

 

Berbagai perspektif menyoroti bahwa perdamaian tidak hanya membutuhkan pendekatan politik, ekonomi, dan sosial, tetapi juga penguatan moral dan spiritual. Penyucian jiwa, pembinaan akhlak, pengendalian diri, serta persaudaraan dinilai penting untuk memperkuat keharmonisan dan mendorong penyelesaian persoalan melalui dialog.

 

Panitia menyampaikan bahwa masukan dari pembahasan hari kedua akan dirumuskan menjadi rekomendasi bersama untuk dibacakan pada acara penutupan. Rekomendasi tersebut diharapkan menjadi landasan bagi penguatan pendidikan spiritual, pengembangan dialog antarperadaban, serta peningkatan kerja sama ulama dan cendekiawan Muslim lintas negara.

 

Melalui Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II, para peserta diharapkan dapat memperluas pemahaman mengenai penerapan nilai ihsan, akhlak mulia, dan persaudaraan dalam kehidupan nyata.

 

Forum ini menjadi ruang pertukaran pemikiran sekaligus ikhtiar bersama untuk memperkuat spiritualitas, membangun persatuan, menghormati keberagaman, dan mendorong terwujudnya perdamaian dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *