
BUSERSIAGA, COM Lampung Tengah – Dinamika kepengurusan Partai Golkar yang berlambangkan pohon beringin di Lampung Tengah kini sedang mengalami proses transisi. Dengan habisnya masa jabatan Musa Ahmad sebagai ketua DPD II Partai Golkar Lampung Tengah per 30 Juli 2025, Tubuh Golkar Lampung Tengah kini terjadi proses transisi dan rentan konflik kepentingan (conflict of interest) internal kepengurusan disebabkan ada yang ingin tampil dengan memaksakan kehendak menjadi ketua DPD II Partai Golkar Lampung Tengah. Pengondisiaan mulai di galang untuk mendapatkan dukungan di agenda penyelenggaraan Musda .
Ketika Musa Ahmad di konfirmasi awak media di kediamannya, membenarkan kondisi masa transisi kepengurusan partai Golkar saat ini sedang terjadi gesekan gesekan yang dimana dia merasa turut andil besar membesarkan partai Golkar di Lampung Tengah sudah tidak dianggap lagi, sepertinya akan terjadi pecah dukungan antar pengurus kecamatan (PK) di 28 kecamatan dalam pemilihan Ketua DPD II partai Golkar Lampung Tengah.
Menurut sesepuh Golkar Lampung Tengah A. Junaidi dari Gunung Sugih yang aktif sebagai kader Golkar sejak tahun 1989, merasa prihatin atas polemik yang terjadi di tubuh partai Golkar saat ini.
“Bahkan orang orang yang duduk sebagai pengurus partai golkar saat ini hanya mengedepankan karir politiknya pribadi dan kelompoknya yang loyal dalam dukung mendukung untuk menduduki jabatan strategis di kepengurusan hingga lupa dengan sejarah bagaimana perjuangan partai Golkar di Lampung Tengah awalnya kami juga ikut berjuang membesarkan partai Golkar,” Ungkap A. Junaidi sesepuh Golkar Lamteng.
Pada 1968, Sekber Golkar berubah nama menjadi Golongan Karya (Golkar) dan menjadi salah satu kekuatan politik utama di Indonesia. Pada 1993, nama Golkar digunakan sebagai singkatan dari Golongan Karya.
“Golkar memiliki sejarah panjang dan kompleks, dengan peran penting dalam politik Indonesia, terutama pada masa Orde Baru. Saat ini, Golkar merupakan salah satu partai politik terbesar di Indonesia dan seharusnya para kader kader golkar harus cermat memilih ketua DPD II Partai Golkar Lampung Tengah agar dapat menjaga marwah partai,” Tegas A. Junaidi yang sampai saat ini masih mengamati perkembangan partai Golkar.
“Konflik kepentingan (conflict of interest) adalah situasi di mana seseorang memiliki kepentingan pribadi (finansial, keluarga, reputasi, dll.) yang dapat mempengaruhi objektivitas atau keputusan dalam menjalankan tugas profesional atau jabatannya, sehingga berpotensi menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan mengorbankan kepentingan publik atau organisasi. Ini terjadi ketika kepentingan pribadi “bertabrakan” dengan tanggung jawab resmi,” Kata Ketua Laskar Lampung Tengah
Kondisi kepengurusan Partai Golkar Lampung Tengah saat ini sedang dalam proses transisi. Musa Ahmad, Ketua DPD II Partai Golkar Lampung Tengah, telah habis masa jabatannya pada 30 Juli 2025, namun telah di-Plt-kan (Pelaksana Tugas) oleh DPP Partai Golkar. Keputusan ini menimbulkan kontroversi karena Musa Ahmad memiliki prestasi elektoral yang baik, dengan Partai Golkar berhasil meraih 13 kursi DPRD di Lampung Tengah di bawah kepemimpinannya
Musa Ahmad menyampaikan kepada awak media bahwa keputusan ini akan menciptakan ketidak puasan dan rentan terjadinya conflig interest. Hanan A. Rozak telah terpilih sebagai Ketua DPD Partai Golkar Lampung periode 2025-2030, namun belum ada informasi tentang susunan kepengurusan DPD II Partai Golkar Lampung Tengah yang baru, masih menjadi perbincangan karena ada yang tidak bisa menerima kedudukanya.
Pengamatan sesepuh Golkar menambahkan bahwa setahu saya kepengurusan partai DPD II Golkar Lampung Tengah yang senior itu sekjen febriyantoni yang sangat lama di partai Golkar bukan berarti dia anak saya lantas membahasnya. Dalam menjalankan roda partai golkar saya tahu betul siapa saja orang orang yang mempunyai komitmen kuat untuk membesarkan Golkar di Lampung Tengah.
Di tahun 2024 hasil perolehan suara Golkar mendapat kan 13 kursi, merupakan bukti bahwa dengan pencapaian tersebut pucuk pimpinan legislatif dipimpin oleh Febriyantoni dari Fraksi Golkar.
“Sejarah mencatat saat itu ketua DPD II partai Golkar di pimpin Musa Ahmad dan Febri yantoni sebagai sekjen nya jangan sampai Golkar di Lampung Tengah ini terpecah belah oleh kepetingan pribadi karena salah satu nya pendiiri Golkar yg berdarah darah adalah saya pada tahun 1989, ” Kilas Sesepuh Golkar A. Junaidi
Pesan saya jaga marwah partai Golkar dan jangan dijadikan kepetingan pribadi dan jangan lupa sejarah di Golkar ini. Jangan anak yang baru saja berkecimpung di dunia politik mau memecah belah kan Golkar partai besar ini di republik ini.
Mencermatii polemik dimasa transisi ditubuh Golkar tersebut saya merasa sedih dan tidak terima jika ada permainan kotor dan saya meminta kepada DPP, DPD I Lampung untuk persiapan musda DPD II partai Golkar Lampung Tengah jangan sampai ada keributan dan saya berharap jaga keamanan dan ketentraman di kampung saya Gunungsugih karena kini keadaan Lampung Tengah sedang mengalami banyak permasalahan.
“ini sekedar masukan untuk DPP dan DPD apalgi tidak terasa waktu berjalan akan pesta demokrasi lagi tetap jaga keutuhan partai berlambang pohong beringin,” Pungkasnya A. Junaidi. ( Red)




