ACEH TAMIANG / Buser Siaga — Warga Kampung Paya Meta dan sekitarnya kini diliputi kekhawatiran mendalam. Sungai Lhok Medang Ara yang selama ini menjadi sumber kehidupan tiba-tiba berubah. Ikan-ikan mati, tanaman warga layu, dan sumber penghidupan yang diandalkan turun drastis. Dugaan mengarah pada adanya pencemaran yang mengancam lingkungan sekaligus perekonomian masyarakat setempat.

Merespons keluhan yang terus mengalir, Komisi IV DPRK Aceh Tamiang turun langsung ke lokasi, Senin (26/10/2026). Rombongan dipimpin Ketua Komisi IV, Syarifuddin, didampingi anggota Muhammad Irwan dan Hajarul Aswad, menelusuri dua titik yang diduga menjadi sumber pencemaran, termasuk sumur Pertamina di Paya Meta Kecamatan Karang Baru.
Tegas Anggota Dewan: Nasib Warga Tak Boleh Tertunda
Di hadapan pihak Pertamina dan warga, Ketua Komisi IV Syarifuddin menegaskan posisi tegas dewan:
“Kami di sini mewakili suara rakyat. Jika sungai ini rusak dan mata pencaharian warga terancam, maka pihak terkait tidak boleh hanya diam atau memberi penjelasan yang berputar-putar. Warga butuh kejelasan, bukan alasan.”
Anggota Komisi IV, Muhammad Irwan, juga menyampaikan kekhawatirannya:
“Kerugian warga sudah nyata terlihat. Ikan mati, tanaman rusak. Ini menyangkut hajat hidup banyak orang. Hasil laboratorium memang kita tunggu, tetapi penanganan awal tidak boleh menunggu hasil itu keluar dulu.”
Sementara itu, Hajarul Aswad menekankan pentingnya transparansi:
“Pertamina wajib terbuka. Hasil uji internal tidak cukup, masyarakat butuh kepercayaan. Hasil uji DLHK harus dipublikasikan secara terbuka agar semua pihak tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Bekas Perbaikan Sumur Ditemukan, Pertamina Akui Pernah Ada Kebocoran
Tim menemukan jejak jelas perbaikan pada sumur Pertamina. Pihak Pertamina EP Field Rantau mengakui sebelumnya terjadi kebocoran pada sumur tersebut pasca banjir dan telah diperbaiki. Namun di sisi lain, pihak Pertamina menyatakan belum dapat memastikan bahwa limbah dari wilayah mereka adalah penyebab utama pencemaran, dan membantah adanya aliran limbah yang masuk ke sungai.
“Kita belum boleh menarik kesimpulan sebelum hasil laboratorium keluar. Namun kami akan pantau terus setiap prosesnya sampai warga mendapatkan kejelasan,” tegas Syarifuddin di akhir peninjauan.
Hasil pemeriksaan laboratorium DLHK kini dinantikan banyak pihak. Bagi warga Paya Meta, ini bukan sekadar angka di atas kertas — ini adalah tentang sungai mereka, mata pencaharian mereka, dan masa depan keluarga mereka. Dewan berjanji tidak akan membiarkan persoalan ini selesai begitu saja.
Kami akan terus mengikuti perkembangan kasus ini.( Zulherman)











