Aceh Tamiang/ Buser Siaga – Menjelang akhir tahun, Kabupaten Aceh Tamiang kembali memasuki fase siaga banjir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca ekstrem, dan pengalaman pahit banjir musiman yang selalu menghantui warga, mendorong pemerintah daerah untuk bertindak cepat.
Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol (P). Drs. Armia Pahmi, MH, hari ini mengeluarkan instruksi tegas dan terkoordinasi yang ditujukan kepada seluruh perangkat daerah hingga masyarakat. Tujuannya adalah memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.
Keputusan ini didasari oleh sejarah panjang bencana banjir yang menghantui Aceh Tamiang. Beberapa wilayah bahkan mengalami banjir berulang dalam hitungan jam. Instruksi kali ini bertujuan memastikan pemerintah daerah siap bertindak sebelum bencana benar-benar terjadi.
“Dengan curah hujan yang tinggi saat ini, kita harus segera melakukan persiapan dini,” tegas Bupati Armia Pahmi.
Ancaman nyata di depan Mata seperti Kecamatan Bendahara, Banda Mulia, Karang Baru, dan Tenggulun telah diidentifikasi sebagai wilayah dengan potensi banjir tinggi. Pengalaman banjir besar sebelumnya menunjukkan bahwa debit sungai dapat meningkat drastis setelah hujan deras di hulu.
Masyarakat masih mengingat bagaimana air masuk ke rumah-rumah mereka secara perlahan, lalu menelan ruang tamu dalam hitungan jam. Instruksi Bupati kali ini terasa lebih mendesak dan berorientasi pada keselamatan warga.
Pemerintah daerah tidak ingin hanya bereaksi setelah banjir terjadi. Strategi tahun ini adalah antisipasi sejak dini.
Bupati Armia Pahmi merinci ada empat poin penting yang wajib dilaksanakan oleh pemerintah dan menjadi pedoman bagi masyarakat:
1. Antisipasi dan Evakuasi Dini: Warga diminta aktif mengikuti sosialisasi kesiapsiagaan. Para Datok (kepala desa) diperintahkan menyiapkan lokasi pengungsian yang aman dan mudah dijangkau. Evakuasi dini adalah upaya menyelamatkan diri sebelum situasi memburuk.
2. Penguatan Satgas Terpadu: Pembentukan dan penguatan Satgas Bencana Alam Terpadu, yang melibatkan unsur TNI, Polri, BPBD, relawan, dan pemerintah desa. Satgas ini akan menjadi tulang punggung utama dalam penanganan bencana.
3. Logistik dan Peralatan: Memastikan ketersediaan logistik yang memadai dan peralatan pendukung seperti perahu karet, lampu penerangan, alat komunikasi, hingga tim yang bertugas memetakan area rawan.
4. Komunikasi dan Informasi: Memastikan informasi yang akurat dan cepat sampai kepada masyarakat, serta membangun saluran komunikasi yang efektif antara pemerintah dan warga.
Instruksi Bupati Aceh Tamiang ini adalah langkah yang tepat dan patut diapresiasi. Namun, kesiapsiagaan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab seluruh masyarakat.
Masyarakat perlu meningkatkan kesadaran akan potensi bencana dan aktif berpartisipasi dalam upaya mitigasi. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa seluruh instruksi dilaksanakan dengan baik dan diawasi secara ketat.
Dengan kesiapsiagaan yang optimal, diharapkan Kabupaten Aceh Tamiang dapat meminimalisir dampak buruk dari bencana banjir yang mungkin terjadi. ( Zulherman )






