Webinar Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026:Forum Lintas Sektor Serukan Langkah Nyata Menyelamatkan Lingkungan Aceh

Banda Aceh31 Dilihat

Banda Aceh,  Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026 menjadi momentum refleksi sekaligus seruan aksi melalui penyelenggaraan Webinar dan Diskusi Publik bertema “Aceh Kaya Akan Sumber Daya Alam dan AirnyaTapi Mengapa Lingkungannya Terus Saja Terluka?” yang diselenggarakan atas kolaborasi Dewan Pimpinan Wilayah Sarekat Hijau Indonesia (DPW SHI) , Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Cabang Aceh Besar, dan Program Studi Teknik LingkAcehungan Universitas Serambi Mekkah.

Kegiatan yang dilaksanakan secara virtual ini mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, organisasi profesi, praktisi, mahasiswa, komunitas lingkungan, dan masyarakat sipil untuk mendiskusikan berbagai tantangan lingkungan yang dihadapi Aceh, mulai dari degradasi sumber daya air, kerusakan daerah aliran sungai (DAS), deforestasi, hingga tantangan tata kelola sumber daya alam yang berkelanjutan.

Membuka kegiatan, Ketua PII Cabang Aceh Besar selaku keynote speaker menegaskan bahwa pembangunan dan perlindungan lingkungan tidak dapat dipisahkan serta membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Lingkungan hidup bukan hanya isu ekologistetapi fondasi pembangunan daerahKemajuan ekonomi harus berjalan beriringan dengan perlindungan sumber daya alam agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat.”Tegasnya.

Pada sesi pertama, Direktur Perumda Tirta Aneuk Laot Kota Sabang, Eddy Husnizal, S.T., memaparkan materi mengenai krisis kualitas dan kuantitas sumber daya air, ancaman deforestasi, dan kerusakan DAS di Aceh. Ia menyoroti bahwa isu air harus ditempatkan sebagai agenda strategis pembangunan daerah. “Air bukan hanya kebutuhan dasartetapi indikator kesehatan lingkungan. Ketika kualitas dan kuantitas air mulai menurunsesungguhnya itu menjadi tanda bahwa sistem ekologis sedang mengalami tekanan tandasnya. Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kerusakan hutan dan DAS akan berdampak langsung pada keberlanjutan pasokan air bagi masyarakat.Perlindungan kawasan tangkapan air dan pengelolaan DAS harus menjadi prioritas bersamaMenjaga hulu berarti menjaga kehidupan di hilir.” Lanjut Eddy.

Pada sesi pemaparan kedua, Ketua DPW SHI Aceh, Dr. Ir. T. M. Zulfikar, S.T., M.P., IPU., mengangkat tema kondisi lingkungan hidup Aceh, tata kelola sumber daya alam, dan tantangan keberlanjutan. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa Aceh membutuhkan perubahan paradigma pembangunan yang lebih adaptif terhadap daya dukung lingkungan. “Aceh sesungguhnya memiliki modal ekologis yang sangat besarNamun apabila tata kelola ruang dan pemanfaatan sumber daya alam tidak dibangun secara berkeadilan dan berkelanjutanmaka kerusakan lingkungan akan terus menjadi biaya yang harus dibayar masyarakat.”Ungkapnya. Ia juga menegaskan pentingnya memperkuat kolaborasi antara  pemerintah, masyarakat sipil, akademisi, dan pelaku pembangunan.Penyelamatan lingkungan tidak dapat dilakukan oleh satu institusi sajaDibutuhkan keberanian untuk membangun kolaborasi dan kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan.”

Sementara itu, pada sesi ketiga, Ketua Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Serambi Mekkah, Ir. Vera Viena, S.T., M.T., menekankan pentingnya kontribusi akademisi, profesi insinyur, dan masyarakat sipil dalam menjawab tantangan lingkungan.Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan kajian akademikIlmu pengetahuan harus hadir menjadi dasar pengambilan keputusan dan mendorong lahirnya solusi dan action plan yang dapat diterapkan di lapangan.” Ia juga menambahkan:Kesadaran lingkungan harus dibangun sebagai budaya bersamabukan hanya respons terhadap bencana atau krisis yang sedang terjadi.”

Diskusi berlangsung aktif dengan berbagai masukan dari peserta yang berasal dari beragam latar belakang profesi dan institusi. Forum menghasilkan sejumlah rekomendasi awal yang akan menjadi bahan tindak lanjut bagi para pemangku kepentingan, antara lain penguatan tata kelola sumber daya alam, perlindungan kawasan hutan dan DAS, peningkatan literasi lingkungan, serta penguatan kolaborasi lintas sektor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *