Panggung Amal Seni Budaya Sukses, Seniman Aceh Himpun Donasi Dan Ide Kreatif

Banda Aceh17 Dilihat

BANDA ACEH – Panggung Sosial Budaya (PaSoBa) yang digagas puluhan seniman Aceh yang aktif terlibat dalam Forum Silaturrahmi Seniman Aceh (ForSSA), akhirnya berhasil dilaksanakan.

Acara untuk amal melalui pertunjukan demi menghimpun bantuan bagi kalangan seni dan budaya Aceh tersebut dilangsungkan pada Selasa malam, 26 September 2023, di Ruang Tertutup Taman Budaya Aceh, Banda Aceh.

Koordinator ForSSA, Chairiyan Ramli, mengatakan, panitia mengapresiasi seluruh sponsor, artis dan para undangan serta publik Aceh atas perwujudan gelaran bertajuk ‘Berkarya untuk Sesama dalam Kebersamaan’ tersebut.

Dalam sambutannya, Chairiyan mengapresiasi secara khusus dukungan para pihak antaranya; Disbudpar Aceh, UPTD Taman Seni Budaya Aceh, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Aceh, Pegadaian Syariah, serta sponsorship lainnya yang telah rela ikhlas menuangkan segenap upaya nyata demi terwujudnya penyelenggaraan PaSoBa tadi malam.

“Kita sangat menghargai, turut apresiasi kepada para pihak formal maupun nonformal yang telah menjadi ujung tombak keberhasilan terselenggaranya acara ini, yang memang digelar untuk tujuan himpun donasi amal publik pecinta seni budaya di Aceh. Hasil donasi nantinya diserahkan kepada seniman maupun budayawan pekerja seni yang dianggap layak menerima,” kata Chairiyan, akrab disapa Yan Kande.

“Siapapun telah andil nyata personal maupun komunitas atau lembaga demi menguatkan dan menyukseskan seluruh rangkaian PaSoBa ini kita sangat berterima kasih. Semoga Tuhan membalas setimpal seluruh kebaikan dan kerelaan para sponsorship, relawan talen maupun tim bidang-bidang dalam struktur panitia PaSoBa. Saya mewakili ForSSA mengucapkan terima kasih tak terhingga atas jerih payah hampir seratusan seniman dalam even amal ini, Alhamdulillah cukup sukses,” terangnya.

PaSoBa Menampilkan Seni Budaya Tradisi Hingga Hip Hop Dance

Para penampil malam itu antara lain; Teater Kosong, Tangke Band, HNS, Bur’am, WDC, Din Saja, Salaudin, Sanggar Buana, Sanggar Citka Geunta, Meusaho Band juga Kulet Community & SuKamoSa.

Pada saat acara, Gedung Indoor Taman Budaya Aceh terlihat penuh suasana meriah dan bersahaja, dikawal duo MC kawakan Aceh; Dosi Elfian juga Emil Sukun.

Nuansa pertunjukan PaSoBa tampak menginspirasi para pengunjung dalam merasakan ragam kemampuan para seniman di atas pentas. Mereka berhasil membangun atmosfir pertunjukan yang diakui sebagian besar penonton cukup unik dan jarang didapat di even selama ini.

“Saya kagum dengan beberapa pertunjukan malam ini, khususnya yang ada nuansa Melayu, karenanya saya memilih mendonasikan dana pribadi terutama demi menyokong para seniman Aceh ini terus memperthankan nilai kesenian Indonesia di Aceh,” ujar Miftah yang juga hadir sebagai perwakilan Kepala BPK Wilayah I Aceh, Piet Rusdi, S. Sos.

Melalui keterangan persnya, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Aceh via Miftah menyatakan rasa bangga dan puas terhadap penyelenggara PaSoBa.

“Awalnya kami kira akan berjalan seperti umumnya penyelenggaraan even seni budaya, ternyata malam ini penyelenggaraan PaSoBa tampak sungguh di luar dugaan. Para donatur dan penonton tampaknya telah memperoleh suguhan yang setimpal dari pengorbanan para talen dan panitia yang memang memformat even ini sebagai ruang amal saleh guna membantu kesulitan rekan seniman khususnya di Aceh, terima kasih terkhusus kepada seluruh penonton yang telah turut hadir menonton,” ungkap Miftah.

Selain kesan khas yang diperoleh para undangan juga pengunjung PaSoBa, dalam sesi lelang karya terlihat para donatur di lokasi acara menyumbang via transfer ke rekening panitia PaSoBa maupun secara tunai memasukkan dana donasi mereka yang dipandu lewat kotak amal donasi PaSoBa petugas di acara.

Selain itu, para talen juga mengucapkan apresiasi dan rasa kebersahajaan yang ikhlas atas perhelatan PaSoBa dengan inisiatif nyata mereka diberikan kesempatan untuk tampil menunjukkan karya seni budaya, selain ini adalah kesempatan beramal bagi para seniman seprofesi. Mereka menilai upaya menjalin silaturrahmi seniman lintas bidang lewat PaSoBa adalah suatu kolaborasi yang sangat bermakna.

“Kami dari HNS mengucapkan terima kasih atas kesempatan tadi malam, Acara mantap, sampai bertemu lagi di kegiatan selanjutnya, Semoga saling menginspirasi dan mendukung dari berbagai genre,” mengutip ungkapan Nay mewakili HNS.

Secara performance, para penampil PaSoBa telah menunjukkan penampilan terbaik mereka, seni tari tradisi, nasional, kontemporer bahkan hip hop dance merupakan suguhan yang berhasil memukau pengunjung Taman Budaya Aceh.

Di bidang seni rupa terlihat koleksi dari lukisan pelukis kawakan Aceh turut mewarnai penyelenggaraan PaSoBa, dilengkapi pula performance action dari pelukis Salaudin yang ditampilkan di sudut kanan bawah pentas utama selama sejam lebih melukis langsung karya rupa.

“Saya memahami bahwa PaSoBa ini adalah ajang silaturrahmi seniman lintas bidang lewat pertunjukan guna menghimpun donasi yang diperuntukkan bagi kalangan seni budaya kita di Aceh. Perhelatan ini bagi saya cukup memberi arti nyata. Berkarya adalah hal lain, tetapi hubungan silaturrahmi seniman Aceh patut menjadi capaian utama dari gelaran kali ini. Semoga dedikasi seluruhnya dapat setimpal hasilnya dalam membantu sesama seniman,” ungkap Salaudin yang juga membidangi dekorasi panggung malam itu.

PaSoBa, menurut beberapa kalangan mestinya dapat dilaksanakan di kesempatan mendatang secara rutin, anggapan publik tersebut didasari atas adanya beragam kondisi berkesenian di Aceh yang selama ini kurang sinergis para pihak. Jika memungkinkan, panitia mengaku akan menyelenggarakan even pertunjukan malam amal donasi seni budaya semacam PaSoBa melalui format yang lebih baik dan lebih sukses ke depannya.

“Kita yakin jika upaya kolaborasi seperti ini dapat diteruskan. Program lintas komunitas juga personal dalam upaya menggaungkan dunia kesenian di Aceh secara lebih komprehensif dalam mengatasi tantangan bagi pelaku seni dan budaya, apapun itu bisa dilakukan. Apapun itu, kuncinya adalah keterbukaan. Pelayanan dan kerja sama yang menguntungkan tidak semata finansial, tetapi immaterial akan lebih memungkinkan guna mencapai tujuan pemajuan kebudayaan di Aceh. Saya percaya semua itu pun musti didasari kebudayaan yang bermartabat pula, harus begitu,” tutup Chairiyan Ramli.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *