Muzakarah Ulama Tauhid Sufi Internasional II Ditutup di Aceh, Syekh Suriah Serahkan Kitab kepada Abuya Amran Waly

Banda Aceh17 Dilihat

 

 

BANDA ACEH — Muzakarah Ulama Tauhid Sufi Internasional II yang diselenggarakan oleh MPTT-Indonesia resmi ditutup di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Minggu (11/10/2026). Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 9–11 Oktober 2026, ini menjadi momentum penting dalam memperkuat persatuan umat Islam, mengembangkan ajaran tauhid dan tasawuf, serta mendorong terwujudnya perdamaian di tingkat nasional maupun internasional.

 

Muzakarah yang dipimpin Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidy tersebut mengangkat tema “Mengangkat Ajaran Sufi untuk Persatuan dan Perdamaian Umat.” Kegiatan ini dihadiri para ulama dan peserta dari berbagai negara, di antaranya Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Kamboja, Palestina, Suriah, Maroko, Mesir, dan Tunisia.

 

Kehadiran para ulama dari berbagai negara menunjukkan pentingnya dialog dan kerja sama keilmuan lintas bangsa dalam memperkuat ukhuwah Islamiyah serta mengembangkan nilai-nilai Islam yang berlandaskan tauhid, iman, dan ihsan.

 

Syekh Suriah Dukung Perjuangan Abuya Amran Waly

 

Salah satu momen penting dalam rangkaian penutupan muzakarah adalah penyampaian apresiasi dan dukungan dari ulama asal Suriah, Syekh Muhyidin Abdurrazak, terhadap perjuangan Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidy dalam membangkitkan dan mengembangkan Muzakarah Ulama Tauhid Sufi di tingkat internasional.

 

Dalam penyampaiannya, Syekh Muhyidin Abdurrazak menekankan bahwa upaya Abuya Amran Waly dalam menghidupkan kembali muzakarah mendapat dukungan dari para ulama yang hadir dan bergabung dalam forum internasional tersebut.

 

Menurutnya, berkumpulnya ulama dari berbagai negara dalam satu forum menjadi kesempatan penting untuk mempererat hubungan keilmuan, memperkuat persatuan umat Islam, serta menyebarluaskan nilai-nilai tauhid dan tasawuf demi terciptanya kehidupan yang lebih damai.

 

Syekh Muhyidin Abdurrazak juga menyinggung hubungan garis keturunan Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq yang dikaitkan dengan dirinya. Hal tersebut menjadi bagian dari penyampaiannya dalam rangkaian kegiatan yang mempertemukan para ulama dari berbagai latar belakang dan negara.

 

Sebagai bentuk penghormatan dan dukungan spiritual, ulama asal Suriah tersebut memanjatkan doa kepada Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidy. Ia berharap ilmu dan perjuangan Abuya Amran Waly senantiasa menjadi penerang bagi umat manusia di seluruh dunia.

 

Suasana penutupan berlangsung khidmat ketika Syekh Muhyidin Abdurrazak menyerahkan sebuah kitab kepada Abuya Amran Waly. Prosesi tersebut menjadi salah satu momen yang mencerminkan penghormatan serta eratnya hubungan keilmuan di antara para ulama lintas negara.

 

Dukungan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa muzakarah tidak hanya menjadi ruang pertemuan, tetapi juga wadah untuk memperkuat komitmen bersama dalam mengembangkan ajaran tauhid dan tasawuf serta membangun persaudaraan umat Islam di tingkat internasional.

 

Lima Resolusi Muzakarah

 

Dalam penutupan kegiatan, Muzakarah Ulama Tauhid Sufi Internasional II menghasilkan lima resolusi yang menitikberatkan pada penguatan tauhid, pembinaan akhlak, sinergi antara ulama dan pemimpin, serta upaya mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial.

 

Pertama, memperkuat tauhid dan nilai ihsan dalam kehidupan masyarakat Muslim sebagai landasan membangun kehidupan yang beriman dan berakhlak mulia.

 

Kedua, membangun dan membina akhlak al-karimah melalui penguatan ajaran tauhid dan tasawuf dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat.

 

Ketiga, mendorong sinergi antara pemimpin umat dan ulama dalam memperkuat akhlak serta nilai-nilai kebangsaan yang berlandaskan Islam, iman, dan ihsan.

 

Keempat, menyerukan kepada para ulama tauhid sufi di tingkat internasional agar berperan aktif dalam memajukan peradaban umat Islam sekaligus memperkuat nilai-nilai kemanusiaan universal.

 

Kelima, mengajak pemerintah, ulama, dan masyarakat Indonesia untuk bekerja sama dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memperkuat keadilan sosial.

 

Kelima resolusi tersebut diharapkan menjadi landasan moral dan spiritual bagi penguatan peran ulama dalam membangun masyarakat yang damai, berakhlak, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

 

Resolusi itu juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara ulama, pemimpin, pemerintah, dan masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan serta mendorong terwujudnya perdamaian yang berkelanjutan.

 

Penasihat kegiatan, Abi Syukri Daud Pango, sebelumnya menyampaikan bahwa penyelenggaraan muzakarah merupakan bagian dari upaya menghidupkan kembali ajaran tasawuf di Aceh sekaligus memperkuat persatuan dan perdamaian umat.

 

Melalui forum tersebut, para ulama diharapkan dapat terus bertukar pandangan, mempererat ukhuwah Islamiyah, serta memperkuat penerapan nilai-nilai tauhid dan tasawuf dalam kehidupan bermasyarakat.

 

Berpotensi Mendorong Perekonomian Masyarakat

 

Selain memperkuat hubungan keilmuan dan persaudaraan ant ulama lintas negara, penyelenggaraan Muzakarah Ulama Tauhid Sufi Internasional II selama tiga hari juga berpotensi memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat di sekitar lokasi kegiatan.

 

Kehadiran ulama, tamu, dan peserta dari berbagai daerah serta negara membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk meningkatkan aktivitas perdagangan selama kegiatan berlangsung.

 

Penjualan makanan dan minuman, jasa transportasi, serta berbagai usaha pendukung lainnya berpeluang memperoleh manfaat dari meningkatnya aktivitas pengunjung di sekitar lokasi kegiatan.

 

Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan berskala internasional tidak hanya memiliki nilai spiritual dan keilmuan, tetapi juga berpotensi mendukung pergerakan ekonomi masyarakat setempat.

 

Meski demikian, besarnya dampak ekonomi tersebut perlu didukung data mengenai aktivitas perdagangan dan pendapatan pelaku usaha agar manfaatnya dapat diukur secara lebih konkret.

 

Memperkuat Peran Aceh dalam Pergaulan Ulama Internasional

 

Penyelenggaraan Muzakarah Ulama Tauhid Sufi Internasional II di Aceh kembali menegaskan pentingnya daerah ini sebagai ruang pertemuan dan pertukaran keilmuan Islam lintas negara.

 

Melalui penguatan ajaran tauhid, iman, ihsan, dan tasawuf, para ulama diharapkan dapat terus berkontribusi dalam membangun persatuan umat Islam, mempererat hubungan ant bangsa, serta mendorong terciptanya perdamaian dunia.

 

Dukungan para ulama dari berbagai negara terhadap perjuangan Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidy menjadi bagian penting dari semangat kebersamaan yang terbangun dalam muzakarah tersebut.

 

Dengan berakhirnya kegiatan ini, lima resolusi yang dihasilkan diharapkan tidak berhenti sebagai rumusan forum, tetapi dapat diwujudkan melalui langkah nyata dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

 

Semangat persatuan, akhlak mulia, keadilan sosial, dan perdamaian diharapkan menjadi kontribusi berkelanjutan Muzakarah Ulama Tauhid Sufi Internasional II bagi umat Islam dan masyarakat dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *