Chef Kebuli Langit Dorong MBG Difokuskan ke Dapur SPPG, Ingatkan Sekolah Fokus Mendidik Bukan Memasak

Banda Aceh10 Dilihat

Banda Aceh — Dosen Kampus Swasta, penulis buku, Chef Kebuli Langit makanan khas timur tengah yang juga anggota DPP Ikatan Sarjana Alumni Dayah Aceh (ISAD), Tgk. H. Hasanuddin, M.Ed., menegaskan bahwa pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) harus mutlak difokuskan pada dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang profesional, dan jangan ditarik ke lingkungan sekolah atau kantin.

“Tgk. Hasanuddin menyoroti secara tajam kekeliruan orientasi jika sekolah diposisikan sebagai unit produksi makanan. Secara tegas ia mengingatkan bahwa marwah tenaga pendidik adalah mendidik anak bangsa, bukan dialihfungsikan menjadi pengurus dapur umum.”

Demikian kata Tu Sudan begitu akrab disapa chef kebuli, Tgk Hasanun di dapur ledendaris di Kota Banda Aceh, Kamis 9/92026

“Guru sekolah tugasnya mendidik, bukan suruh masak. Jangan pernah menggeser esensi institusi pendidikan menjadi dapur komersial yang mencederai konsentrasi belajar para siswa,” ujar Tgk. Hasanuddin dengan nada penekanan yang kuat.

Lebih lanjut, ia memperingatkan para pemangku kebijakan agar tidak bersikap reaktif dan asal potong kompas dalam mengeksekusi program bernilai strategis nasional ini. Mengingat MBG menyangkut hajat hidup orang banyak dalam skala raksasa, penyelesaian atas kendala operasional wajib ditempuh melalui jalur perbaikan struktural, bukan dengan membongkar fondasi yang sudah berjalan.

“Semua harus siap, karena ini skala besar, bukan jajan biasa. Kalau ada kendala dan masalah, ya dibenahi, bukan malah diganti. Kalau diganti, nanti bisa jadi kembali ke start awal program yang sudah jalan dan merusak tatanan yang telah terbangun,” tegasnya.

Dari perspektif tata kelola dan kemaslahatan, memindahkan dapur ke sekolah dinilai sebagai langkah mundur yang kontraproduktif. Dapur SPPG terbukti memiliki standar pengawasan berlapis dari Badan Gizi Nasional (BGN), standar higienitas ahli gizi, serta siklus ekonomi kerakyatan yang melibatkan UMKM lokal. Mengalihkan fungsi ini ke sekolah tidak hanya memecah fokus pendidikan, tetapi juga berisiko merusak rantai pasok ekonomi yang selama ini telah menjadi fondasi kemandirian umat di daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *