ACEH TAMIANG / Buser Siaga — Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol. (P) Drs. Armia Pahmi, M.H., menyoroti dua tantangan besar sekaligus: kian memprihatinkannya sedimentasi Sungai Tamiang dan mendesaknya penguatan sistem kesiapsiagaan bencana. Ia memandang keterlibatan masyarakat, termasuk organisasi amatir radio, sebagai kunci penting dalam me dinghadapi risiko banjir yang kian nyata di daerah ini.
Pandangan itu disampaikan saat membuka Ujian Negara Amatir Radio (UNAR) ORARI Lokal Aceh Tamiang Tahun 2026, yang diikuti sebanyak 116 peserta — sebuah rekor keikutsertaan tertinggi di Aceh sejak tahun 1987 hingga 2026.
ORARI: Tali Komunikasi Saat Semua Terputus
Bupati menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas antusiasme warga yang mengikuti ujian tersebut. Baginya, kehadiran anggota ORARI bukan sekadar hobi, melainkan aset strategis daerah.
“Tidak ada kata terlambat untuk membangun mitigasi bencana di Aceh Tamiang,” ujar Armia Pahmi.
Ia menjelaskan bahwa saat bencana datang, sering kali jaringan telepon terputus. Di saat itulah ORARI berperan menjadi jalur penyambung nyawa — menyebarkan informasi, mengkoordinasikan evakuasi, dan menjaga komunikasi antarwilayah yang terisolasi.
“Kesiapsiagaan tidak hanya tanggung jawab pemerintah saja. Semua elemen masyarakat harus terlibat, termasuk ORARI yang memiliki keunggulan di bidang komunikasi darurat,” tegasnya.
Sungai Tamiang Makin Dangkal: Hanya Sebagian Kecil yang Sudah Dikeruk
Di samping membangun kesiapsiagaan, Bupati juga menegaskan bahwa akar masalah banjir belum tuntas. Sungai Tamiang yang menjadi urat nadi wilayah ini kini menghadapi pendangkalan yang serius.
Dari total panjang alur sungai mencapai 200 kilometer, baru sekitar 6 kilometer yang sedang dikeruk oleh Satuan Tugas Kuala bersama Kementerian Pertahanan — sebuah pekerjaan yang memakan waktu sekitar enam bulan dan belum sepenuhnya selesai.
Bahkan lebih mengkhawatirkan, teridentifikasi sekitar 80 titik pendangkalan yang menumpuk di sepanjang alur sungai, mencakup kawasan Lubuk Sidung, Alas 9, Sekumur, Balengkar, Simpang Jernih, hingga area sekitar jembatan menuju Kota Lintang.
“Pengerukan yang dilakukan masih sangat terbatas dibandingkan luasnya persoalan yang kita hadapi,” ungkap Armia Pahmi.
Masalah Berasal dari Hulu: Penebangan Liar & Alih Fungsi Hutan
Bupati mengingatkan, sedimentasi tidak bisa diselesaikan hanya dengan pengerukan di hilir. Akar masalahnya ada di hulu. Penebangan liar, alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit, dan curah hujan tinggi telah mempercepat erosi. Lumpur dan kayu terbawa arus dan menumpuk di sepanjang alur sungai.
“Kita tidak bisa hanya mengeruk di hilir sementara hulu terus terkikis. Diperlukan penanganan terpadu: menjaga hutan, mengendalikan erosi, dan memulihkan daerah resapan air,” jelasnya.
Saat ini pengerukan juga terkendala musim hujan — saat debit air naik, pekerjaan menjadi tidak efektif. Untuk sementara, Bupati telah mengajukan permohonan ke BNPB terkait dukungan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), yang masih memerlukan kajian teknis lebih lanjut. Dalam jangka panjang, ia juga mendorong kajian pembangunan waduk dan kolam retensi, termasuk di kawasan Cekrak.
Satu Semangat: Siap Bencana & Jaga Lingkungan
Bupati Armia Pahmi menegaskan: upaya mengurangi risiko banjir harus berjalan di dua jalur sekaligus — memperkuat kesiapsiagaan dan komunikasi darurat bersama ORARI dan masyarakat, serta menuntaskan akar masalah lingkungan dari hulu hingga hilir Sungai Tamiang.
“Semangat yang ditunjukkan peserta UNAR hari ini adalah awal yang baik. Mari kita jaga Aceh Tamiang tidak hanya saat bencana terjadi, tapi mulai dari sekarang,” pesannya menutup kegiatan.( Zulherman)











