Cucu Sultan Aceh : “Peringatan 496 Tahun (1530-2026 M) Wafatnya Sultan Ali Mughayat Syah Al Ghazi Fil Barri Wal Bahri (Ksatria Pejuang di Lautan dan Daratan) Yang Menentang Imperialisme Barat”

Banda Aceh18 Dilihat

 

Banda Aceh.Cucu Sultan Aceh yang juga Pemimpin Darud Donya Cut Putri menyampaikan, bahwa Sultan Ali Mughayat Syah yang memerintah pada tahun 1507- 1530 M, adalah Sultan Aceh yang terkenal berjasa besar sebagai Sultan yang pertama kali menggabungkan wilayah Aceh untuk melawan Portugis di Malaka.

 

“Sejak jatuhnya Malaka ke Portugis 1511 M, seluruh wilayah Asia Tenggara terancam. Sultan Ali Mughayat Syah yang bangkit pertama kali menyatakan perlawanan, dan menyatukan seluruh wilayah Aceh”, terang Cut Putri.

 

Sultan Ali Mughayat Syah naik tahta pada tahun 913 Hijriyah atau 1507 M, demikian menurut beberapa sumber. Tak lama setelah Sultan naik tahta, pada tahun 1511 M Portugis datang dan menyerang Malaka, Malaka pun jatuh ke tangan Portugis. Hal ini mengejutkan Sultan Ali Mughayat Syah dan para raja-raja di kawasan Nusantara.

 

Sultan Ali Mughayat Syah tercatat berjasa besar mematahkan serangan Portugis di Aceh. Jenderal Gaspar De Costa dari Portugis mencoba menyerang Aceh pada tahun 1519. Sultan Ali Mughayat Syah dengan mudah menghancurkan Portugis di Kuala Aceh. Gaspar De Costa ditangkap dan kemudian dibebaskan setelah Portugis mengirimkan tebusan ke Aceh.

 

Menyadari ketangguhan Sultan Ali Mughayat Syah, Portugis kembali menyerang Aceh pada tahun 1521 M dengan kekuatan penuh. Kali ini Portugis dipimpin Jenderal perang brilian yang terkenal tangguh Jorge De Brito. Sultan Ali Mughayat Syah pun menerjang dan memimpin sendiri perlawanan menghadapi Portugis di perairan Aceh. Dalam pertempuran dahsyat ini Panglima Portugis Jorge De Brito tewas, dan pasukan Portugis kocar kacir melarikan diri.

 

Pasukan Portugis kemudian mendirikan basis di Pedir. Sultan Ali Mughayat Syah dan Pemimpin Pedir sepakat menyerang Portugis di Pedir, kali ini Portugis kalah dan bentengnya hancur. Portugis memilih melarikan diri ke Samudera Pasai.

 

Di Kawasan Samudra Pasai, Portugis telah berhasil membangun benteng yang amat kuat. Mengetahui akan keadaan yang sangat berbahaya ini, Panglima Perang Aceh yang dipegang oleh Laksamana Ibrahim adik dari Sultan Ali Mughayat Syah mengumpulkan kekuatan dari berbagai wilayah Aceh. Pasukan Kerajaan Samudera Pasai dengan Pasukan Kerajaan Pedir dan Pasukan Kerajaan Aceh bergabung menjadi satu pasukan besar yang solid demi melawan Portugis di Benteng Samudra Pasai.

 

Semua pihak tahu bahwa perang ini paling menentukan, karena kokohnya benteng Portugis di Samudera Pasai. Jika salah langkah maka artinya kehancuran.

 

Pada tahun 1524 perang dahsyat akhirnya pecah, dan kedua belah pihak saling menyerang. Dalam perang dahsyat kali ini Laksamana Ibrahim bertekad merebut Benteng Portugis di Samudera Pasai. Benteng Portugis kemudian berhasil dihancurkan dan direbut oleh pasukan Aceh. Namun Panglima Perang Laksamana Ibrahim adik Sultan Ali Mughayat Syah syahid dalam pertempuran itu, saat cita-citanya telah tercapai.

 

Membalas kematian Panglima Perang Aceh, Panglima Perang Portugis Ruy De Brito ikut tewas dibunuh dalam perang dahsyat ini.

 

Efek perang ini membuat keadaan berbalik, banyaknya rampasan perang dari Benteng Portugis memperkuat Kesultanan Aceh untuk bisa menyerang Portugis di Malaka. Kesal dengan Aceh, pada tahun 1527 Panglima Portugis Franseco De Mello mencoba menyerang Aceh. Namun Sultan Ali Mughayat berhasil mengusir dan mengalahkan Portugis kembali.

 

Pada tahun 1528 Gubernur Portugis Simon De Souza kembali mencoba menyerang Aceh dengan siasat. Sultan Ali Mughayat Syah segera menghadapi De Souza secara besar-besaran. Dalam perang Ini Aceh mengalami kemenangan gemilang, dan Gubernur Simon De Souza tewas dalam pertempuran serta banyak Perwira tinggi Portugis ditangkap di Aceh.

 

Pihak Portugis di Malaka ketakutan melihat kokohnya Kesultanan Aceh. Untuk pertama kalinya ciut nyalinya, dan mencoba meminta perdamaian yang ditolak mentah-mentah oleh Sultan karena sikap Portugis yang telah berkali-kali menyerang Aceh.

 

Kemenangan Sultan Ali Mughayat Syah yang gilang gemilang dari tahun ke tahun telah membuat kerajaan di Nusantara dan Asia Tenggara senang dan bernafas lega.

 

Hal ini karena kelangsungan kerajaan-kerajaan di nusantara dan Asia Tenggara sangat bergantung pada perlindungan dari Kerajaan Aceh, yang terkenal tangguh dengan keahlian perang tingkat tinggi. Kemenangan Aceh juga membawa harapan bagi nusantara, karena ini berarti bahwa Portugis berpeluang dikalahkan dan diusir dari Malaka.

 

Maka Sultan Ali Mughayat Syah pun bersiap menyerang Portugis ke Malaka. Namun sayang Sultan Ali Mughayat Syah yang masih berusia muda jatuh sakit dan wafat pada tanggal 12 Zulhijjah 936 Hijriyah atau 7 Agustus 1530 M.

 

“Wafatnya Sultan Ali Mughayat Syah ditangisi oleh Rakyat Aceh dan rakyat kerajaan di Nusantara. Kisah seorang Pahlawan Agung yang dikenal dunia sebagai yang pertama kali bangkit dan berhasil mengalahkan Portugis di Asia Tenggara”, kenang Cut Putri.

 

Nisan makam Sultan Ali Mughayat Syah dipahat dengan indah dan diukir tentang jasa keagungan dan kepahlawanannya. Ludvik Kallus dan Claude Guillot peneliti Perancis mencatat inkripsi di nisan Sultan Ali Mughayat Syah berbunyi :

 

“Ini adalah makam sosok yang layak mendapatkan ampunan, almarhum yang mengharapkan rahmat Allah, yang patuh pada perintah Allah, Al Ghazi Fil Barri Wal Bahri (Ksatria yang berjuang di darat dan di laut) dengan pertolongan Allah, yang murah hati kepada hamba-hamba Allah. Beliau adalah Al-A’la (Sultan tertinggi), Sultan ‘Ali Mughayat Shah semoga Allah menyirami tanah tempat peristirahatan beliau dan menjadikan Syurga sebagai tempat kembali beliau. Beliau wafat pada malam hari (Sabtu ke) Ahad tanggal 12 bulan Allah yang suci, Dzulhijjah — semoga Allah mengakhirinya, bagi kami dan bagi kalian, dalam kemakmuran dan kemuliaan” Tahun Hijriah: Tahun 936 Hijriah Nabi Muhammad SAW (Al-Makki, Al-Madani, Al-Abtahi, Al-Tihami) atau 7 Agustus 1530.

Sebuah tulisan indah di nisan yang menunjukkan dedikasinya dalam perjuangan terhadap Islam dan Aceh. Sultan Ali Mughayat Syah dalam hidupnya masih berusia muda, namun pemerintahannya penuh dengan peperangan yang tidak henti-hentinya dalam jihad demi membela Islam, agar Islam tetap bersinar di Nusantara dan Asia Tenggara, bebas dari pendudukan Kafir Portugis.

Kemuliaan beliau terus diwariskan kepada anak cucunya, semangat perjuangan terus mengalir. Perjuangannya dilanjutkan oleh para Sultan Aceh yang ternama di seantero dunia, seperti Sultan Alaidin Al Kahhar (1539-1571 M), dan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M).

Kesultanan Aceh Darussalam kemudian berdiri megah, dan terkenal menjadi satu dari “The Big Five”, yaitu lima Imperium Islam terbesar dunia yang berdiri sama sejajar, yaitu: Kesultanan Aceh Darussalam, Kesultanan Turki Utsmani, Kerajaan Safawi, Kerajaan Maroko dan Kerajaan Mughal.

Kesultanan Aceh Darussalam sangat disegani, sebagai penumpas kezhaliman kafir penjajah di melayu nusantara, dan menjadi penjaga tegaknya panji-panji Islam di kawasan Asia Tenggara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *