Banda Aceh.Anggota DPRK Banda Aceh, Teuku Arief Khalifah mengkritisi pelayanan bagi pasien di Rumah Sakit Meuraxa yang dinilai masih belum memuaskan. Arief menyampaikan kritikan
Kepada direksi atas layanan RS dan meminta kepada Walikota Banda Aceh untuk dapat mengevaluasi para pengambil keputusan di RS tersebut.
“Saya mengalami sendiri dan juga menerima banyak keluhan dari masyarakat bagaimana pelayanan RS terutama di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Daftar tunggu pasien untuk mendapatkan kamar rawat sangat tidak masuk akal, seringnya pasien pasien yang masuk ini harus menunggu lebih dari 10 jam bahkan ada yang menunggu hampir 24 jam untuk mendapatkan kamar perawatan. Ini tidak menunjukkan perbaikan sama sekali dari direksi sebelum nya, malah menurut saya lebih kacau. Standar nya dalam 6-8 jam pasien sudah dapat dikirim ke kamar perawatan kecuali untuk pasien-pasien dengan penyakit khusus yang memerlukan observasi lanjutan. Tapi menunggu sampai hampir 24 jam ini sangat tidak nyaman bagi pasien dan keluarga yang menunggu” ujar Politisi Gerindra ini.
Arief juga menyorot lemah nya urusan administrasi untuk rujukan dari RS Meuraxa ke Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) yang menurut nya memang harus segera di perbaiki.
“Ini saya alami sendiri ketika ingin merujuk keluarga saya dengan penyakit serius, ketika ingin merujuk petugas hanya sekedar mengisi rekam jejak medis tanpa detail sehingga sistem di RSUZA tidak langsung merespon dan akibatnya permohonan layanan tidak dapat dilanjutkan. Ketika dilakukan cek, ternyata proses rujukan melalui aplikasi SISRUTE petugas tidak mencantumkan rekam medis yang diperlukan. Sehingga kami dari keluarga pasien harus mengurus sendiri proses rujukan ini. Bahkan sampai harus memandu petugas untuk mengisi permohonan rujuk yang sesuai di sistem tersebut. Dan ketika proses ini selesai pun tidak serta merta pasien akan langsung di transfer ke RSUZA sebagai RS rujukan, bahkan petugas ambulance sempat menolak mengantarkan dengan dalih keluarga pasien harus lebih dulu mendapatkan jaminan kamar di RS rujukan sebelum di antarkan, ini kan tandanya memang tidak ada komunikasi antar bidang” ujar Arief menjelaskan.
Proses ini diyakini tidak hanya terjadi pada dirinya tapi juga pada kebanyakan pasien. Oleh sebab itu Arief meminta Walikota untuk memanggil para direksi dan mengevaluasi kebijakan kebijakan yang dikeluarkan oleh direksi. Karena Visi Misi yang diusung Walikota dalam perbaikan layanan RS mengutamakan peningkatan pelayanan pada masyarakat.
“Ada beberapa laporan yang juga masuk kesaya mengeluhkan sistem administrasi ini, mungkin terdapat perbaikan dalam sistem administrasi tertentu yang sedang dibenahi di RS, tapi terkait pelayanan pasien saya lihat masih tidak terdapat perubahan. Pada awal di tunjuk para direksi RS ini berencana untuk mengubah IGD sebagai tempat pelayanan medis terbaik di Banda Aceh, tapi sampai saat ini belum ada tanda tanda perbaikan. Malah diperparah karena sudah tidak ada lagi staff yang di tugaskan untuk menjadi penghubung pasien dan bagian layanan. Dulu masih ada staf yang menenangkan pasien dan menjelaskan situasi bila proses layanan terhambat, tapi hari ini fungsi itu hilang dari IGD RS Meraxa. Karena sebaik apapun administrasi, keuangan dan lain nya, masyarakat tetap menilai baik atau tidak nya suatu Rumah Sakit melalui standar pelayanan kepada pasien dan keluarganya. Jadi saya harap Bu Wali Illiza dapat mengingatkan agar para direksi ini bekerja harus berdasarkan Visi Misi Walikota di RS Kota tersebut. Dan mumpung posisi Dirut definitif masih kosong, menurut saya Bu Wali buka saja Job Fit dengan melibatkan ahli-ahli bidang kesehatan dan administrasi kesehatan agar proses penentuan Dirut definitif nanti benar- benar melalui proses yang capable” tutup Arief






