Diplomasi Kuah Belangong: Menjemput Aroma Perancis di Batee Shok

Blog4 Dilihat

Sabang, 15 Februari 2026.

BUSERSIAGA, COM Ada yang bilang, cara tercepat meruntuhkan tembok perubahan adalah melalui meja makan. Kemarin, di bawah hamparan lahan produksi minyak Nilam, Desa Batee Shok, Sabang, sebuah misi besar digelar bukan di ruang rapat ber-AC, melainkan di atas tikar dengan aroma Kuah Belangong yang juara.

 

Kunjungan ini bukan sekadar jalan-jalan ‘healing’. Ini adalah gerakan kolaborasi “Top Notch” lintas lembaga: Amanah (Youth Creative Hub), ARC (Atsiri Research Centre), DBDL (Direktorat Bisnis dan Dana Lestari), PT GMU (Global Mandiri USK), dan AAA (Aceh Australian Alumni). Dipimpin langsung oleh Dr. Syaifullah Muhammad (Kepala ARC USK), membawa timnya untuk membedah masa depan emas hijau Aceh:

• Prof. Dr. Ir. Rina Sriwati, M.Si. (Guru Besar Pertanian USK)

• Muslim Amiren, S.Si., M.InfoTech. (FMIPA/ARC)

• Dr. Safwan Nurdin, SE, M.Si. (Ekonom Publik/Amanah)

• Ade Surya Mandira (Dira), S.P., M.Sc. (Agribisnis USK/DBDL)

• Zaidan Shadiq. (PT GMU/Ekonomi Islam)

• Frida Pigny, S.IP., MCom (AAA)

 

MyNilam: Jembatan Digital Menuju “Bankable”

Masalah abadi petani kita adalah: Potensi besar, tapi catatan nol. Tanpa rekam jejak, bank tidak akan melirik. Di sinilah Aplikasi MyNilam masuk sebagai game changer.

Bukan cuma soal keren-kerenan teknologi, MyNilam adalah tentang Traceability. Setiap tetes keringat petani terekam secara digital, setiap cash flow menjadi transparan. MyNilam adalah “rapor” yang membuat petani punya harga diri di hadapan perbankan. Respon mereka? Satset! Mereka tidak takut teknologi; mereka justru haus akan validasi.

 

Rahasia PA 30: Sains di Balik Pengadukan

Tantangannya nyata: Perancis (melalui U-Green) hanya mau menyentuh minyak dengan kadar Patchouli Alcohol (PA) minimal 30%. Sabang saat ini masih di bawah itu.

 

Dr. Syaifullah mengajarkan teknik pengadukan presisi untuk menguapkan senyawa terpen agar kadar PA naik. Namun, Prof. Rina Sriwati melengkapinya dari sisi hulu dengan konsep Zero Waste. Beliau menyarankan agar limbah cair dan padat sisa proses nilam jangan dibuang, melainkan disulap menjadi Pupuk Organik Cair (POC).

 

Cukup fermentasi 3 minggu campuran air beras, gula, kulit buah, dan air kucuran sisa pemanasan nilam (yang masih mengandung sisa minyak). Hasilnya? Larutan kaya unsur hara yang siap membuat kadar PA tanaman nilam meroket. Prof. Rina bahkan berkomitmen akan membagikan hasil riset mahasiswa USK terkait inovasi ini langsung kepada para petani Sabang. Inilah kolaborasi nyata kampus dan lapangan!

 

Refleksi: Kekuatan dari Dalam

Melihat antusiasme petani Batee Shok yang luar biasa rapi dan haus ilmu, aku teringat kutipan Jim Kwik:

“Jika telur dipecahkan oleh kekuatan luar, kehidupan berakhir. Jika telur dipecahkan oleh kekuatan dari dalam, kehidupan dimulai.”

 

Petani Batee Shok kemarin membuktikan bahwa mereka tidak sedang menunggu “dipecahkan” oleh bantuan pemerintah, tapi mereka memilih “pecah” dari dalam melalui kemauan belajar. Mereka memiliki Mindset Pembelajar, pondasi paling mahal dalam transformasi apa pun.

 

Kemarin di Sabang, kami tidak hanya menampung data, kami sedang menyaksikan sebuah industri yang siap meroket. Dari tikar di Batee Shok, menuju botol parfum di Paris( red )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *