Mengembalikan Marwah Aceh

77

Oleh : Ramond Dony Adam

Lebih dari 70 tahun yang silam, Aceh adalah permata yang menyinari kegelapan Indonesia. Satu-satunya wilayah Indonesia yang memegang kedaulatan penuh di tengah upaya Belanda untuk menguasai kembali republik tercinta ini. Aceh menyumbangkan segalanya untuk Republik. Disinilah denyut jantung terakhir Republik berdetak.

Pantai-pantai Aceh menjadi saksi, bagaimana hasil alam Aceh digunakan sebagai komoditas untuk mendapatkan senjata dari luar negeri. Radio Rimba Raya Aceh bergema hingga penjuru dunia mengabarkan : Yogyakarta jatuh dan pemimpin Republik ditawan oleh Belanda tetapi Aceh akan melanjutkan perjuangan. Dan yang tidak boleh dilupakan adalah sumbangan materi rakyat Aceh untuk perjuangan kemerdekaan.

Rakyat Aceh lah yang memastikan Indonesia untuk pertama kalinya memiliki pesawat sendiri, Dakota C-47 RI-001 Seulawah. Tidak hanya satu tetapi dua pesawat. Rakyat Aceh juga membiaya perjalanan diplomasi Haji Agus Salim ke New Delhi dalam Konferensi Inter Asia. Dan yang tidak kalah penting juga, rakyat Aceh pula yang membelikan kapal Angkatan Laut dengan nomor lambung PBB 58 LB. Kapal legendaris itu dinakhodai Mayor John Lie dan diberi nama The Outlaw.

Kemakmuran dan kontribusi besar Aceh saat itu membuat Bung Karno menyebut Aceh sebagai Daerah Modal. Tidak hanya kebulatan masyarakatnya yang ikhlas memberi tetapi juga individu-individu seperti Teuku Markam. Tanpa pengusaha Aceh itu maka tidak akan pernah ada Emas di puncak Monas. Sumbangannya tidak akan sanggup dihitung dengan nilai uang sekarang.

Aceh yang kita lihat sekarang sungguh berbeda dengan Aceh yang kita ingat dalam sejarahnya. Aceh seolah kehilangan marwahnya di tengah-tengah kemajuan negeri tercinta ini. Angka kemiskinan dan pengangguran di Aceh, salah satu yang tertinggi di Indonesia. Pesantren-Pesantren yang jadi pusat penggemblengan intelektual dalam kondisi nyaris tidak layak pakai. Para petani kesulitan meningkatkan taraf hidup. Dan nelayan-nelayan berteriak kekurangan modal. Aceh berubah, dari daerah modal menjadi daerah minus.

Setiap lima tahun, dalam Pemilu, kita terus memilih wakil-wakil rakyat Aceh untuk duduk di DPR RI. Beberapa nama cukup dikenal di panggung nasional tetapi celakanya sama sekali tidak menyentuh persoalan di tingkat lokal. Rakyat dibiarkan sendiri, suara mereka tidak pernah sampai ke Jakarta. Anggota legislatif di tingkat DPRK, DPRA maupun DPR RI banyak yang bukan putra daerah sendiri sehingga kehilangan empati mana kala mendapatkan kursi. Caleg-Caleg yang amanah seringkali tersingkir oleh Caleg dengan uang berlimpah.

Aceh harus berubah. Semua kemerosotan ini harus berhenti. Setiap daerah pemilihan di Aceh harus diwakili oleh putra daerahnya masing-masing. Sebab mereka yang besar di tengah-tengah rakyat adalah mereka yang paham Amanat Penderitaan Rakyat. Caleg yang datang dengan uang berlimpah diterima tetapi tidak boleh dipilih lagi oleh rakyat Aceh. Kita butuh energi baru untuk Aceh tercinta.

Saya Ramond Dony Adam Calon Anggota DPR RI PDI Perjuangan Dapil Aceh I (Satu) Nomor urut dua, bertekad untuk membawa aspirasi masyarakat pantai barat selatan Aceh di tingkat pusat. Saya berjanji sepenuh hati, Insyaallah jika dipercaya nanti, saya tidak akan menyia-nyiakan amanah yang diberikan. Rakyat pantai barat selatan menjadi Saksi besarnya cinta saya pada tanah tempat saya dibesarkan.

Saya yakin, ada puluhan ribu putra putri Aceh seperti saya. Mencintai Aceh sepenuh hati. Gelisah melihat situasi yang terjadi saat ini. Butuh wakil rakyat yang peduli dan mengayomi.

Insyaallah, saya ingin mewujudkan harapan itu bersama-sama dengan masyakarat Aceh. Saya akan berjuang sekuat tenaga demi Aceh yang kita cintai ini. Semoga Allah SWT selalu meridhai setiap langkah kita.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *